October 20, 2010

Cuplikan

Home Republika Online
Koran » Berita Utama
Minggu, 17 Oktober 2010 pukul 07:52:00
'Matah Ati', Demi Sebuah Pengakuan

Fitria Andayani

Mereka memilih Singapura untuk pentas perdana.


Panggung di Theater Hall Esplanade Singapura itu dibuat miring hingga 15 derajat. Di atas panggung itu pula, para penari terus bergerak. Mereka bertutur tentang kepedihan Raden Mas Said ketika harus berjuang melawan penjajahan Belanda. Para penari terus bergerak. Sesekali, terlihat hujan panah yang diramaikan dengan efek-efek khusus. Formasi pun tiba-tiba berubah ketika sang tokoh sentral dan 40 pasukan perempuan membentuk formasi setengah lingkaran. Sepanjang 90 menit pertunjukan, 20 adegan perjuangan Raden Mas Said hadir gegap gempita dari persembahan 95 penari Jawa, musisi gamelan, dan karawitan, serta 125 pekerja seni profesional.

Seperti itulah persembahan megah bernama 'Matah Ati' pada 22-23 Oktober nanti. Dalam kosakata Jawa, 'matah ati' berarti 'meladeni hati'. Inilah persembahan dari sebuah langendriyan atau opera tradisional Jawa. Judul ini diambil dari nama Rubiyah setelah dipersunting Raden Mas Said yang bergelar Mangkunegara, yaitu Raden Ayu Kusuma Matah Ati atau Raden Ayu Kusuma Patah Ati.

Tak ada dongeng di sana karena cerita itu adalah sebuah kisah nyata. Adalah Bendoro Raden Ayu (Bray) Atilah Soeryadjaya yang merupakan cucu Mangkunegara VII yang menuliskan kisah itu dalam bentuk sendratari 'Matah Ati'. Cerita indah ini dirajut dengan tema cinta, belas kasih, sukacita, keberanian, dan keputusasaan. Kisahnya pun dirangkai dengan jalinan artistik tari Jawa tradisional serta paduan musik dan teknik kontemporer. "Ini adalah sebuah pertunjukan sendratari bernarasi kisah cinta yang luar biasa, namun diungkapkan melalui seni tradisional," ujar Atilah yang dikenal pula sebagai pelestari budaya Indonesia, terutama Jawa.

Dengan keinginan untuk mengenalkan budaya Indonesia secara luas, pentas sendratari itu pun dibuat. Kali ini, dipilih kisah Kerajaan Mangkunegaran ketika melakoni masa perang saat penjajahan Belanda di abad ke-18. Sejak dua tahun lalu, Atilah telah menggodok ide, konsep, dan naskah sendratari ini. Demi menulis naskahnya, Atilah menempuh studi ekstensif melalui riset kepustakaan, napak tilas, dan wawancara langsung. Semua usaha tersebut dilakukan untuk mengumpulkan informasi yang rinci dan fakta-fakta akurat tentang kisah RM Said dan Rubiyah.

Riset tersebut bukan perkara mudah. Kenyataannya, literature tentang Rubiyah sangat sedikit. "Kisahnya kebanyakan saya dapatkan dari seorang profesor sejarah asal Michigan, Amerika, yang memperdalam sejarah Kerajaan Solo," tuturnya.
Keterbatasan tersebut juga membuat Atilah mengolah data yang ada dengan memasukkan gagasan-gagasan tambahan sehingga kisah nyata ini menjadi sebuah tatanan cerita dan pentas seni yang utuh.

Bahkan, Atilah dan tim menyempatkan diri untuk berkunjung ke makam Rubiyah untuk mendapatkan sejumlah fakta sejarah. "Bukan dengan maksud klenik, namun untuk mendapatkan kedekatan dengan masa Rubiyah pernah hidup dulu," katanya.
Alhasil, dalam pementasan tersebut, penonton bisa melihat sebuah formasi setengah lingkaran itu. Ini sesuai dengan tata makam Rubiyah yang dikelilingi oleh makam prajurit-prajuritnya dalam bentuk setengah lingkaran.

Salah satu riset dilakukan dalam penggunaan kostum tari. "Kami menggunakan pakaian dan persiapan kuno milik kerajaan Mangkunegaran, " tutur Atilah. Ini terutama untuk kostum dua pemeran utama, yaitu RM Said yang diperankan oleh Fajar Satriadi dan peran Rubiyah yang dilakoni pada Rambat Yulianingsih. Selain dari Istana Mangkunegaran, Atilah juga menggunakan batik-batik tua dan aksesori koleksi almarhum desainer Iwan Tirta.

Sedangkan kostum penari lainnya kebanyakan menggunakan kain-kain baru yang penggunaannya disesuaikan dengan sejarah. "Jangan sampai kostum yang digunakan menyimpang dari cara berbusana masyarakat pada masa tersebut," katanya.
Meskipun demikian, terdapat pengembangan kostum yang dilakukan atas dasar keperluan pementasan. "Misalnya kain batik yang dijahit menjadi rok agar tidak repot saat berganti kostum," ujarnya. Kecuali untuk karakter Rubiyah yang kostumnya tetap dijaga keaslian material dan cara pakainya. Karakter ini membutuhkan lima kali ganti kostum dan riasan. "Kami latihan berkali-kali hingga bisa menemukan cara yang pas agar tidak memakan waktu lama saat berganti kostum," jelasnya.

Riset mendalam juga dilakukan pada gerak tari yang ditampilkan. "Kami berusaha untuk tetap menjaga esensi gerak tarian Mangkunegaran," ujar koreografer 'Matah Ati', Eko Supendi. Gerak tari Mangkunegaran, lanjut Eko, membutuhkan ruang gerak yang lebih luas. "Tidak sama dengan gerak tari khas Surakarta yang lebih halus," ujarnya.

Perhatian
Dan, panggung miring itu adalah milik Jay Subiakto, produser dan sutradara pertunjukan. Keinginan Jay hanya satu, yaitu agar seluruh gerak dan formasi tarian indah yang dihadirkan dalam 'Matah Ati' bisa disaksikan dengan leluasa oleh para penonton. "Dari depan panggung hingga balkon gedung pertunjukan," katanya. Panggung ini membuat para penari berlatih lebih keras, terutama dalam hal ekspresi. "Kebanyakan penari merasa takut menari di panggung miring tersebut," ujar koreografer 'Matah Ati' lainnya, Daryono.

Selain panggung yang miring, Jay juga menerapkan sistem sling untuk pertunjukan tari yang melayang. "Lagi-lagi kami tertantang untuk menghadirkan tarian yang indah tanpa ada sedikit pun berkas ekspresi ketakutan," ujar Daryono. Panggung di Theater Hall Esplanade Singapura itu pun menjadi pilihan demi sebuah pengakuan. Untuk kali pertama, sendratari 'Matah Ati' ditampilkan di luar negeri. "Fasilitas panggung di sana lebih memadai dan kami ingin mendapatkan pengakuan," kata Jay. Pengakuan tersebut diharapkan akan menjadi tiket bagi tim sendratari 'Matah Ati' untuk mendapatkan perhatian dari khalayak dalam negeri. "Mereka menganggap orang-orang luar negeri adalah guru dan kita muridnya," tuturnya. Sementara karya negeri sendiri dikomentari dengan kejam walaupun kualitasnya tak jauh berbeda dengan milik seniman asing.

Padahal, bukan hanya tampil, lagu dan permainan tradisional anak-anak Jawa juga akan menjadi bahan presentasi budaya di sejumlah universitas di Singapura. Setelah Singapura, sendratari 'Matah Ati' akan bergerak ke sejumlah negara di Eropa. Jay berharap nantinya sendratari tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Tak lain karena satu tujuan, yaitu membuat mereka mencintai karya negeri sendiri. "Kami ingin menularkan rasa kecintaan terhadap bangsa Indonesia kepada semua masyarakat Indonesia, terutama generasi muda," ujar Jay.

Di balik itu, Atilah sendiri juga berharap kisah 'Matah Ati' ini bisa mengembalikan citra Solo yang kini semakin identik dengan teroris. "Mungkin karena banyak drama penangkapan teroris yang terjadi di Solo," ujarnya.

ed: endah hapsari

1 comment:

  1. Sangat bangga dengan Sendratari ini..
    Thanks ya untuk tulisannya sangat menarik..

    ReplyDelete