April 30, 2010

NGOROK Bukan Pertanda Tidur Nyenyak

Wah artikel ini bagus buat dibaca ama Bapak sayang.. :)

Ada pemahaman yang salah di masyarakat bahwa seseorang yang
tidur ngorok menandakan ia tidur nyenyak. Sebenarnya, ngorok merupakan salah
satu gejala atas adanya gangguan di saluran pernapasan. Gangguan itu bisa
terjadi karena saluran napas tersumbat oleh gumpalan lemak pada mereka yang
kegemukan, tumor, atau ada pembengkakan di saluran pernapasan. Bila tidak
diatasi, ngorok atau sleep apnea itu bisa menurunkan kualitas hidup
penderitanya.

"Biasanya penderita sleep apnea ini tidurnya tidak pernah
berkualitas. Bangun tidur bukannya segar, malah lemas dan mengantuk karena
oksigen yang masuk ke dalam tubuh tidak lancar," kata dr Chandra Yoga
Aditama, SpP, Direktur RS Persahabatan, dalam penjelasannya kepada wartawan
terkait dengan digelarnya pertemuan ilmiah pulmonologi dan ilmu kedokteran
respirasi (PIPKRA) 2006, di Jakarta, Jumat (10/2).

Pada kesempatan itu, dr Chandra Yoga didampingi dr M Arifin
Nawas SpP, ketua panitia penyelenggara dan dr Elisna Syahruddin, SpP, ketua
seksi ilmiah.

Dr Chandra menjelaskan, sleep apnea terjadi karena waktu tidur
otot-otot dari lidah bagian belakang dan sekitarnya menjadi terlalu "relaks"
sehingga bergerak kebelakang dan menutup saluran pernapasan. Kondisi itu
membuat seseorang ngorok (snoring), bahkan ada yang tidak bernapas untuk
beberapa detik. Akibatnya, terjadi penurunan kadar oksigen dalam darah.
Naiknya kadar CO2 dalam darang merangsang pusat di otak yang membuat
penderitanya bangun (secara tidak sadar) dan bisa bernapas lagi.

"Kejadian apnea ini bisa terjadi puluhan kali sehingga orang ini
tidak pernah tidur nyenyak dan jarang bermimpi. Meski penderitanya sudah
cukup lama tidur, tetap saja dia masih terasa sangat mengantuk," ujar dr
Chandra seraya menambahkan sleep apnea juga membuat penderitanya mudah lupa
dan mengalami kesulitan belajar.

Menurut dr Elisna Syahruddin, RS Persahabatan telah memiliki
klinik khusus untuk mengatasi masalah sleep apnea. Ruang tidur yang ditata
seperti hotel berbintang itu berisi peralatan canggih yang mampu mendeteksi
faktor penyebab terjadinya sleep apnea.

"Bila gangguan itu akibat kegemukan, pasien diminta untuk diet
saja, tetapi kalau gangguan itu akibat peradangan atau tumor ya harus
dioperasi. Pokoknya, penyakit ini bisa disembuhkan, " kata dr Elisna
menegaskan.

Ditanya soal biaya, dr Elisna menyebut angka Rp 2 juta untuk
satu kali kunjungan. Biaya itu memang agak mahal mengingat peralatan yang
digunakan canggih dan ruang tidurnya ditata seperti layaknya hotel
berbintang lima. "Cukup satu kali saja datang, sudah terdeteksi faktor
penyebabnya. Selanjutnya tinggal melakukan pengobatan sesuai dengan faktor
penyebabnya, " kata dr Elisna.

Dr Chandra memaparkan beberapa tips untuk mengurangi tidur
ngorok. Tidurlah dengan posisi miring. Cara itu dapat menjauhkan letak soft
palatum dari dinding tenggorokan. Sehingga tidak menimbulkan getaran yang
menimbulkan bunyi ngorok. Selain itu, penderita diminta untuk mengurangi
konsumsi alkohol, karena dapat mengendurkan otot di sekitar tenggorokan.
Akibatnya udara yang masuk dan keluar dapat terhalang. Itulah yang
menyebabkan suara dengkuran.

"Tips lainnya adalah berhenti merokok. Rokok dapat membuat
iritasi pada selaput dalam tenggorokan. Infeksi di bagian ini dapat
menyumbat saluran pernapasan dan menyebabkan mendengkur," ujarnya. Dan yang
tak kalah penting adalah berolahraga secara teratur. Dengan berolahraga bisa
membuat otot-otot tubuh, termasuk otot di sekitar saluran pernapasan, lebih
terkontrol. Selain juga bisa mengurangi lemak, faktor penyebab utama bagi
mereka yang kegemukan. (Tri Wahyuni)

Minggu, 12 Februari 2006

No comments:

Post a Comment