”Ketika kamu terbangun di pagi hari, Pooh,” kata Piglet pada akhirnya, ”apa yang akan kamu katakan pada dirimu sendiri?”
”Sarapan apa pagi hari ini?” kata Pooh.
”Kalau kamu apa Piglet?”
”Aku akan bilang, hal menyenagkan apa yang akan terjadi hari ini?” kata Piglet.
Pooh mengangguk bijak.
”Itu sama saja,” katanya.
Winnie the Pooh. Selama ini mungkin kita hanya melihatnya sebagai salah satu cerita kartun yang populer. Cerita kartun karangan A.A.Milne ini memang sepintas tampak sederhana , tapi kalimat-kalimat yang ada di dalamnya mengandung makna yang sangat mendalam.
Buku berjudul The Tao of Pooh ini bukan bercerita mengenai Pooh, beruang kecil yang gendut yang senang mencipta lagu dan bertualang, tapi lebih kepada menjelaskan prinsip-prinsip Taoisme melalui Winnie the Pooh, dan menjelaskan Winnie the Pooh melalui Taoisme. Ini adalah suatu hal yang aneh, absurb dan terlalu sulit, setidaknya itulah yang dikatakan oleh Benjamin Hoff, penulis buku ini, ketika ia mengajukan ide untuk menulis buku ini kepada kalangan pemikir. Hoff sendiri adalah seorang Taois, selain penulis, fotografer, musisi, penggubah lagu, serta ahli dalam peringkasan tulisan Jepang. Ia juga sarjana dalam Seni Asia. Karena dia adalah seorang Taois, setidaknya itu adalah salah satu alasan mengapa ia mengangkat Taoisme, bukan Konfusianisme ajaran luhur lain yang menjadi mainstream di Asia, Cina khususnya, sebagai grand tema tulisannya dalam buku The Tao of Pooh, tentunya selain banyak factor lain yang menjadi alasannya. Cara Hoff untuk menjelaskan Taoisme menggunakan kehidupan seorang Pooh atau yang terkenal dengan Winnie the Pooh dan sebaliknya terasa cukup unik dan menggelitik karena tidak ada yang berpikir bahwa seorang Pooh, beruang kecil gendut yang berjalan berkeliling mengajukan pertanyaan-pertanyaan tolol, mencipta lagu-lagu dan melakukan berbagai macam petualangan, tanpa pernah menumpuk pengetahuan intelektual dijadikan icon untuk menggambarkan ajaran Tao. Tapi itulah sisi menariknya dan sekaligus intinya. Bagaimana kehidupan seorang Pooh bersama dengan teman-temannya yang lain, digunakan untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan Taoisme itu kepada ”orang Barat” yang mempunyai pola pikir yang boleh jadi sulit untuk mengerti dan memahami apa Taoisme itu. Dan juga sebaliknya. Taoisme digunakan untuk menjelaskan kepada ”orang Timur” tentang How is Pooh?
Hoff mengawali dengan pembahasan mengenai salah satu prinsip terpenting dari taoisme, yaitu P’u, Kayu tanpa Patahan (alamiah dan wajar). P’u diucapkan seperti Pooh (Puuh) tapi dengan u pendek. P’u, dalam kamus bahasa Cina berarti alami, sederhana, jujur dan datar, yang dianalogikan dengan karakter Pooh yang digambarkan ibarat Kayu tanpa Patahan. Penulis tampak kreatif sekali dalam menganalogikan dan mencari kesamaan-kesamaan antara Taoisme dengan karakter Pooh serta kehidupan Pooh bersama dengan teman-temannya. Jadi ada beberapa penggambaran karakter teman-teman Pooh seperti karakter Piglet, Eeyore, Owl, Roo, Tigger, dll yang juga turut mewarnai. Penulis mengajak kita untuk berpikir dan mencerna makna yang terkandung dalam setiap analogy yang dihadirkan, tentunya dengan bantuan penjelasan oleh penulis sendiri, karena konsep Taoisme ini cukup sulit untuk dipahami.
The Tao of Pooh adalah sebuah buku yang sangat unik, menarik dan menggelitik untuk dikaji, meskipun memang cukup sulit untuk dimengerti, apalagi dengan terjemahan yang kurang pas dan terkesan kaku serta kurang komunikatif, sehingga jika kita tidak membacanya secara berulang kali, dapat dipastikan kita akan mangalami kebingungan. Tapi itu tidak menjadi masalah karena penjelasan dari penulis cukup membantu dalam memahami intisari buku ini. Dalam hal ini, penulis memakai Christopher Robin, salah satu tokoh dalam cerita Winnie the Pooh sebagai dirinya yang sedang memberi penjelasan. Christroper Robin bertindak seperti narrator yang sedang menyajikan sebuah cerita dan pembaca disuruh untuk mencermati apa yang sedang diceritakan olehnya. Tapi lucunya, sang narrator juga terlibat dalam cerita. Sedangkan Pooh dijadikan sebagai titik sentral ceritanya. Selanjutnya, cerita bergulir secara alami. Satu hal yang memberi nilai adalah format dialog yang dipakai oleh Hoff dalam tulisannya kali ini yang tentu sangat cocok untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat filosofi ringan. Selain itu, intisari cerita dalam buku ini sebenarnya cukup simple, tidak serumit kelihatannya, hanya saja seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa terjemahannya kurang begitu baik sehingga terkesan kaku dan kurang komunikatif. Intisari buku ini adalah ajaran Tao yang berbicara tentang Kesederhanaan dan Kebersahajaan yang muncul dari keadaan Kayu tanpa Patahan, Si Pooh tadi. Pooh dianalogikan atau dipersamakan dengan Kayu tanpa Patahan atau sebaliknya bukan hanya karena kebetulan namanya nyaris sama. Tapi lebih dari itu kehidupan dan karakter Pooh mirip sekali dengan intisari dari ajaran Tao. Pooh berpikiran sederhana, tidak pernah menyentuh bahaya dan merugikan orang lain. Dari Kayu tanpa Patahan ini muncul kemampuan untuk melakukan berbagai hal secara spontan dan membuatnya berhasil, walaupun bagi orang lain itu tampak aneh. Tapi konsep seperti ini jangan diartikan sebagai sesuatu hal yang penuh dengan kontemplasi. Justru dalam hal ini kita dituntut untuk tidak berpikir terlalu lama, just do it! Kita belajar bekerja dengan alam batiniah kita, tidak semata-mata dengan mengandalkan otak. Intinya, biarkan segala sesuatu mengalir seperti air. Semua berjalan berdasarkan situasi dan kondisi, secara wajar dan alamiah, dan mendengarkan naluri kita sendiri,sehingga kita tidak harus membuat keputusan sulit yang begitu banyak. So, let it be. Tapi bukan berarti tidak ada usaha. Usaha dilaksanakan dengan tatanan alami dari segala sesuatu dan berjalan dengan prinsip usaha minimal. ”…….Tao tidak melakukan, namun tidak ada yang tidak dilakukan. Itu artinya Tao tidak memaksa atau mencampuri segala sesuatu, namun membiarkan mereka bekerja dengan cara mereka sendiri, untuk memberikan hasil secara alami. Maka apapun yang perlu dilakukan, ya dilakukan” (hal 69).
Yang dibahas dalam buku ini bukan hanya mengenai ajaran Tao, tapi juga kritik penulis , sebagai seorang Taois terhadap ajaran Konfusianisme. Hoff menganggap para pemikir Konfusius sebagai semut sibuk yang mengganggu piknik kehidupan, yang menyerbu maju dan mundur untuk memungut remah-remah yang dijatuhkan dari atas (hal 22). Lebih jauh lagi, pemikir Konfusius adalah pemikir yang kering, yaitu seseorang yang mempelajari pengetahuan demi pengetahuan dan yang menyimpan apa yang ia pelajari bagi dirinya sendiri atau bagi kelompoknya sendiri, yang membuat tulisan-tulisan yang bernada angkuh dan sombong sehingga tidak ada orang lain yang bisa mengerti. Akibatnya, dia tidak bisa memberikan pencerahan kepada orang lain. Hal ini dianalogikan dengan Owl, burung hantu teman Pooh yang sering salah mengartikan sesuatu namun ia selalu merasa yang paling pintar, paling tahu, dan yang paling benar, sehingga sering meremehkan yang lain. Bukankah dalam keseharian kita, sering dijumpai hal semacam ini? Atau jangan-jangan kita sendirilah yang menjadi pelakunya, terlepas dari apakah kita adalah penganut Konfusianisme atau bukan.
"http://diandhra.blog.friendster.com/2005
No comments:
Post a Comment