Asiiiiik akhirnya Malam minggu kesampean nonton film komedi romantis The Proposal. A good romantic comedy only has to tick two boxes : depict two people falling in love and be funny about it. Simple as that. Film komedi romantis yang bisa membuat saya terpingkal-pingkal sekaligus terharu sepanjang film ini diputar. Setelah terawih kita langsung menuju ke 21 di Sency, menurut jadwal sih jam 21.10. Begitu sampai di loket, hanya tinggal sisa kursi yang paling depan.. wooow, kursi penuuuh, tapi apa boleh buat, takut gak ada waktu lagi nih jalan sambil nonton berduaan..
The Proposal cerita tentang kehidupan Margareth Tate (Sandra Bullock), seorang executive editor in chief. Seorang wanita mandiri, cekatan yang keras hati. Karena sikapnya yang suka semena-mena itu dia dibenci oleh hampir semua karyawan. Termasuk asistennya yang sangat ganteng yaitu Andrew Paxton (Ryan Reynolds). Margaret terancam dideportasi ke Canada karena masalah visa. Tentu saja itu membuat dia panik dan berusaha mencari jalan keluarnya. Mendadak pada saat dipanggil Board dia menemukan ide untuk mendeklarasikan pertunangan (secara sepihak) dengan asisten pribadinya, Andrew, yang kebetulan seorang warga Amerika. Apa reaksi Andrew? Kaget? Jelas, karena masalahnya mereka ini tidak pernah saling cinta. Hubungan mereka hanya sebatas profesionalisme bos – asisten, tanpa melibatkan rasa sama sekali. Buat Andrew ini bukan hal yang mudah untuk langsung menyetujui “pertunangan” dadakan ini. Jikalau pun akhirnya Andrew setuju terlibat dalam sandiwara ini namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Margareth, termasuk salah stunya harus berlutut untuk melamarnya. Lantas apakah semudah itu mereka menikah? Tentu tidak, ditengah keraguan pihak dinas imigrasi yang sangat menyangsikan cinta mereka berdua yang terkesan mendadak & pasti maksud tertentu mengingat masalah visa Margareth Tate yang bermasalah itu, mereka harus sibuk bersandiwara untuk meyakinkan semua orang bahwa mereka adalah pasangan yang saling jatuh cinta dan akan segera menikah.
Ketika keduanya harus pergi ke Sitka – Alaska untuk menemui kedua orangtua Andrew sekaligus merayakan ultah neneknya yang ke 90. Disini Margareth menemukan kenyataan bahwa keluarga Paxton adalah keluarga kaya raya dengan bisnis yang berderet-deret. Yang lucu adalah saat bagaimana Andrew & Margareth harus bersandiwara & menceritakan kisah cinta mereka di depan semua keluarga & tetangga. Ada banyak kejadian lucu sekaligus mengharukan yang berawal dari Alaska ini. Utamanya ketika mereka diminta harus menikah secepatnya oleh keluarga Andrew. Lantas akan semudah itukah mereka menjalankan pernikahan? Toh hanya sebatas bisnis agar Margareth tidak jadi deportasi. (mereka sepakat akan bercerai beberapa tahun kemudian setelah masalah visa ini mereda). Sangat dilematis. Satu sisi yang bertabrakan dengan sisi lainnya. Apalagi kalau bukan hati nurani. Margareth yang akhirnya menyadari bahwa dia sesungguhnya tidak bisa memaksakan kehendak semaunya ketika ketulusan keluarga Paxton begitu menyentuh hatinya.
Ada pesan moral yang agaknya ingin disampaikan di film ini adalah just be nice & respect to anyone, kita tidak pernah tahu kapan kita justru akan membutuhkan mereka. Cinta juga bisa muncul kapan saja, dimana saja & melalui jalan yang tak terduga.
No comments:
Post a Comment